3 tahun bersama

 3 Tahun Bersama di Sekolah

 

Hari pertama masuk kelas 8, aku masih ingat betul rasanya. Suasana masih asing, wajah-wajah baru bertebaran, dan aku duduk sendirian di pojok dekat jendela. Sampai seseorang menyapa sambil membawa bangku: "Boleh duduk di sini? Tempat lain sudah penuh." Itu Raka, orang yang akan menjadi bagian terbesar dari perjalanan 3 tahun sekolahku.

 

Tahun pertama penuh dengan adaptasi. Kami sering terjebak dalam tugas kelompok yang hampir gagal karena kami lebih banyak bercanda daripada bekerja. Ada mimpi buruk saat presentasi di depan kelas—slide yang rusak, lupa materi, sampai Raka yang malah menyanyi untuk menutupi kekacauan itu. Kami tertawa sampai perut sakit, meskipun nilai akhirnya hanya cukup memuaskan. Di samping itu, kami juga saling bantu: aku yang pandai menghitung membantunya mengerjakan matematika, dia yang jago bercerita membantuku menyusun esai bahasa Indonesia.

 

Tahun kedua, persahabatan kami makin kuat. Kami membentuk geng kecil dengan Lina dan Dito. Setiap jam istirahat pasti berkumpul di bawah pohon trembesi, berbagi bekal, membahas hal-hal tidak penting sampai merencanakan masa depan. Tapi tahun ini juga ada ujian berat. Saat aku sakit dan tidak masuk sekolah selama dua minggu, mereka bergantian datang ke rumah untuk mengantarkan catatan dan mengajari materi yang tertinggal. Bahkan Raka rela pulang terlambat setiap hari hanya supaya aku tidak tertinggal jauh. Sebaliknya, saat ibunya sakit dan dia sering absen, kami berusaha menenangkannya dan memastikan dia tetap bisa mengikuti pelajaran. Kami belajar bahwa persahabatan bukan hanya tentang bersenang-senang, tapi juga saling menopang saat susah.

 

Tahun ketiga, waktu terasa berjalan begitu cepat. Fokus kami berubah—persiapan ujian akhir, pendaftaran sekolah lanjutan, dan pertanyaan yang selalu muncul: "Nanti kita masih bisa ketemu ya?" Suasana kelas jadi campuran antara tegang dan sedih. Kami sering mengulang kenangan lama sambil belajar bersama di perpustakaan. Ada malam minggu yang kami habiskan di sekolah sampai petang, hanya untuk duduk di bangku kelas sambil membayangkan bagaimana rasanya tidak akan pernah lagi duduk bersama di tempat yang sama.

 

Hari perpisahan akhirnya tiba. Saat pembagian ijazah, Raka memberikan sebuah buku catatan yang berisi tulisan dari setiap teman sekelas. Di halaman terakhir dia menulis: "3 tahun ini bukan cuma soal nilai atau pelajaran, tapi tentang kamu yang jadi sahabat terbaikku. Di mana pun kita nanti, kenangan di sekolah ini akan selalu jadi tempat kita pulang."

 

Saat kami berpelukan dan menangis, aku sadar 3 tahun bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk membentuk ikatan yang tidak akan terputus. Sekarang kami sudah melanjutkan sekolah di tempat berbeda, tapi setiap kali bertemu, rasanya seperti tidak pernah berpisah. Semua tawa, air mata, kerja keras, dan kebersamaan itu—semuanya terangkum dalam judul sederhana: 3 Tahun Bersama di Sekolah.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertualangan di alam